Menjaga Niat


Aku sering mengingat nasihat guruku: “Menjaga niat itu ada di awal, tengah dan akhir.”

Di awal sebelum memulai sesuatu. Karena siapa, untuk apa, ingin apa.. Mengapa kamu melakukannya?

Di tengah tatkala melaksanakannya. Kalau jadi lelah, niatnya jangan berubah. Mengeluh dan kesal sama orang bisa bikin niat melenceng. Bisa-bisa kamu melakukan sesuatu dengan benar hanya supaya tidak dimarahi orang lain, atau hanya sebagai pembuktian bahwa apa yang dikatakan orang lain itu salah. Sayang kan?

Di akhir saat menyelesaikannya. Saat tugasmu selesai dengan baik, kamu nggak boleh jadi sombong. Merasa hebat, merasa yang terbaik, merasa jagoan. Kamu harus beryukur dan menyadari bahwa kamu bisa begitu dengan pertolongan Allah. Tinggi hati itu sandungan.

Pada kenyataannya, menjaga niat itu tidak semudah membalikkan telapak tangan (sebenarnya membalikkan telapak tangan susah sih kalau ada gangguan saraf atau otot tangan, oke, abaikan), ada banyak tantangannya. Tapi kalau berhasil, hadiahnya luar biasa.. di dunia ada, di akhirat ada, insya’ Allah.

Ya.. Mungkin nggak bisa langsung sempurna, seenggaknya kamu berusaha.

140216


Intinya,

Secara historis, hari Valentine tidak perlu aku rayakan karena aku tidak terhubung dengan histori tersebut. Sebagai muslim(ah), teladanku adalah Nabi Muhammad. Maka hari yang aku istimewakan hendaknya sesuai dengan hari yang beliau istimewakan.

Secara nilai, hari Valentine tidak sesuai dengan panduan hidup yang aku yakini. Maka aku tidak ikut-ikutan melakukan sesuatu yang dasar nilainya saja sudah berbeda.

Secara konteks, perayaan hari Valentine di dunia banyak digunakan untuk melegalkan hal negatif, tingkat ekstrimnya: seks bebas. Seks bebas ini adalah salah satu perusak generasi. Candu seperti obat-obatan adiktif. Sarana penularan berbagai infeksi menular. Berpotensi merusak masa depan sang perempuan (terutama). And so on.

Maka aku berkata tidak pada perayaan tersebut.

Tahu, Setuju, Berlaku.


Aku pernah berdiskusi dengan seorang teman tentang mengapa seseorang bisa tertular kebiasaan merokok dari lingkungan pergaulannya.

“Karena menurut mereka, merokok itu keren. Merokok menjadi sesuatu yang luar biasa.”

“Bukan Fah, menurutku, justru mereka ikutan karena merokok bagi mereka adalah hal yang biasa. Tidak merokok menjadi hal yang tidak biasa.”

Aku mengangguk saat itu. Sebagian diriku menyetujui perkataan temanku. Sebagian diriku yang lain berpendapat bahwa bisa saja ada alasan lain yang menjadi penyebabnya. Terlepas dari itu, alasan yang dikemukakan temanku dapat diterima.

Ada memang orang yang ikut melakukan sesuatu karena mayoritas orang-orang di sekitarnya melakukan hal tersebut. Supaya dia tidak dianggap aneh. Supaya dia bisa berbaur dengan nyaman. Lalu, dalam merokok misalnya, efek adiksi rokok membuat orang itu tergantung dengan keberadaan rokok meskipun ia sendiri tidak sedang berada di antara orang-orang yang merokok. Rokok menjadi bagian dari hidupnya. Maka sulitlah baginya melepaskan diri dari rokok, kecuali dengan tekad yang kuat.

Memulai melakukan sesuatu tanpa didasari ilmu yang benar memang bisa menjadi hal yang tidak baik bagi kita.

Bisa saja seseorang yang berada di lingkungan para perokok, karena tuntutan pekerjaan misalnya, tidak terpengaruh untuk juga ikut merokok karena dia tahu rokok mengandung berbagai zat berbahaya. Bahkan dia bisa membuat teman-temannya menghormati prinsip tersebut dengan cara yang baik. Bukan tak mungkin dia menjadi inspirasi bagi teman-temannya untuk berhenti merokok.

Ilmu memberikan kita pilihan untuk melakukan hal yang baik dan benar. Pilihan itu memang nyata. Toh ada juga orang yang tahu rokok itu berbahaya tapi tetap saja merokok, karena sikap yang ia pilih tidak bersesuaian dengan ilmu yang ia miliki. Dalam teori perilaku, ada tiga tahapan yang dapat seseorang lalui dalam melakukan sesuatu: tahu – setuju – berlaku.

Analogi ini berlaku untuk hal-hal lainnya dalam kehidupan. Misalnya, freesex yang mulai menjadi hal biasa dalam kehidupan para muda mudi. Bahkan anak SD. Bahkan anak TK. *nangis mojok*

Atau korupsi. *Contoh ekstrim*

Ah, masing-masing dari kita punya alasan masing-masing sebelum melakukan sesuatu. Aku, ingin melakukan sesuatu dengan ilmu.

Gadis yang Suka Mengobrol


Aku adalah gadis yang suka mengobrol.

Aku suka mengobrol dengan mereka yang bisa membuat sisi intelektualitasku tertantang. Berpikir. Memutar otak. Memproses input yang masuk. Menambahkan konteks realitas dalam teori. Membuat ‘teori’ sendiri berdasarkan obervasi atau bacaan masing-masing.

Aku juga suka mengobrol dengan mereka yang mengajak hatiku merasa. Peduli pada sekitar. Memperhatikan orang-orang yang tak terperhatikan. Mengesampingkan ego. Kadang, menangis.

Aku juga suka mengobrol dengan mereka yang artistik. Menangkap pesan tak tertulis dari alam. Menerjemahkan pesan dari peristiwa. Membuat sentuhan dalam tulisan, nada atau lakon.

Aku juga suka mengobrol dengan anak-anak dan logika kanak-kanak mereka yang ‘lovable’. Tertawa lepas. Mengernyitkan dahi saat berusaha menjawab pertanyaan mereka dengan bahasa yang mudah dicerna. Menyanyi. Menari. Melompat.

Aku juga suka mengobrol dengan diriku sendiri. Mengapresiasi setiap prestasi kecil yang kubuat–bangun pagi, tersenyum pada orang lain, menyelesaikan tugas dan lain-lain. Menegur setiap kesalahan yang kubuat dan berusaha memperbaikinya.

Aku juga suka mengobrol dengan Pencipta-ku. Dia Maha Baik. Dia utus manusia mulia bernama Muhammad untuk mengajarkan hamba-Nya tentang makna penghambaan yang sejati. Dia turunkan Al Qur’an untuk memandu agar tak tersesat. Dia dengarkan setiap bisik hati dalam sunyi maupun ramai. Dia sediakan sepertiga malam sebagai waktu pertemuan yang istimewa. Dia Maha Baik..

Perkenalkan, aku adalah gadis yang suka mengobrol.

Hana, Nisrina dan Sebuah Piala


Hari ini aku menemani kedua adik sepupu mungilku mengikuti lomba. Sang kakak bernama Hana, sang adik bernama Nisrina. Hana mengikuti lomba menari saman dan lomba mewarnai. Nisrina mengikuti lomba hafalan do’a. Dua kakak beradik itu memiliki karakter yang cukup berbeda. Hana adalah gadis kecil yang pemalu dan lebih sering menyembunyikan apa yang dia rasakan atau pikirkan sehingga orang dewasalah yang harus banyak bertanya. Nisrina adalah gadis kecil pemberani nan cerdas dan rajin bertanya. Bila aku menyebutkan kosa kata yang baru pertama kali dia dengar, Nisrina akan mencecarku dengan pertanyaan, “Itu apa Kak maksudnya?” sampai dia paham dengan penjelasanku. Sampai-sampai aku merasa harus lebih rajin membaca Kamus Besar Bahasa Indonesia..

Alkisah, pada saat pengumuman, kami mengetahui bahwa Nisrina mendapatkan juara 3 dari lomba yang diikutinya. Orang-orang dewasa di sekitarnya bertepuk tangan riang, berkata selamat pada gadis kecil itu. Tapi saat aku menengok ke arahnya, Nisrina tampak berpikir keras. “Kak, kenapa aku bisa menang?” Aku ingin tertawa saat itu, tapi demi melihat wajah seriusnya, aku berusaha menjawab dengan tenang. “Hm, sepertinya karena tadi Nisrina lancar membaca do’a.” Nisrina mengangguk-angguk. “Oh begitu.” Kemudian barulah wajahnya tampak ceria.

Beberapa menit kemudian Nisrina menghampiri Hana. “Kak Hana, aku kan menang karena lancar baca do’anya. Kak Hana nggak menang karena mewarnainya keluar garis kali. Kak Hana kan harusnya mewarnainya nggak boleh keluar garis.” Aku menahan tawa sekali lagi. Di usia lima tahun, Nisrina memang memiliki nalar yang tajam. Aku melirik sekilas ke arah Hana, ada kilatan sedih di bola matanya.

Saat kami menunggu Nisrina yang maju untuk mengambil hadiah, aku merendahkan tubuhku dan berbisik pada Hana, “Piala itu hanya hadiah yang kecil. Hadiah yang besar itu keberanian yang ada di sini: di dalam hati kita. Hana sudah keren kok. Ayo tos. Aku punya coklat di rumah, nanti kita makan bareng ya sama Nisrina.”

Sekembali Nisrina, Hana tampak lebih ceria. Mereka berdua bisa kembali bertengkar (itu artinya dia kembali normal kan? Hahaha) untuk memegang piala Nisrina. Nisrina yang kegirangan bersikeras memeluk pialanya sepanjang waktu. Tapi pada satu titik, saat tangannya terasa pegal, Nisrina menitipkan pialanya padaku. Pada saat itu kubiarkan Hana memegang piala adiknya. Hana tampak tersenyum di sebelah kiriku. Sementara Nisrina masih sibuk mengoceh di sebelah kananku tentang tas yang baru saja ia dapatkan sebagai hadiah.

Ah, bahkan kanak-kanak tak pernah sadar bahwa diri mereka sendiri adalah hadiah.

Bukan Untuk Sia-sia


image

Reminder🙂

Tersenyumlah, Bersyukurlah :)


image

Percaya


image

Lampu Merah


image

Tulisan H-1 ujian famed. Alhamdulillah ujiannya sudah terlalui. Semoga Allah mudahkan perjalanan selanjutnya.

Hidup Adalah Tentang..


image

Tentang hidup, amanah dari Yang Maha Hidup🙂
Another NtMS.